Siapa sih yang gak tau TKI itu apa. Pastinya sudah pada paham lah. TKI itu kalau boleh dibilang, asal mulanya dari TKW. Ya, Tenaga Kerja Wanita adalah cikal bakal dari Tenaga Kerja Indonesia.
Aku sendiri gak gitu paham, sejak kapan marak pemberangkatan TKW ke luar negeri khususnya Negara Asia Tengah (Arab lah.. gampangnya). Dan sejak kapan pula TKW berubah menjadi TKI alias Tenaga Kerja Indonesia yang mencakup tenaga kerja laki-laki dan perempuan.
Mulanya TKW atau TKI ini, lekat dengan label tenaga kerja tidak terdidik alias mereka bekerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga. Namun lambat laun TKI ini meluas juga ke tenaga kerja terdidik dan terampil.
Kemarin, ketika pulang kampung, saya dan suami mencoba pulang dengan menggunakan kelas ekonomi. Gak ada alasan khusus, cuma ingin tahu aja. Bos kita malah sempet komentar sambil bercanda
“ Malu-maluin.. dobel gardan (sebutan untuk suami istri yang bekerja) kok pulang naik ekonomi”
Seorang rekan yang kerap bertandang mengunjungi suaminya, pernah cerita secara selintas apa yang akan terjadi di kelas ekonomi, salah satunya.. banyak TKI nya.
Waktu kita check in, beberapa TKI sempat bermasalah. Ada yang kelebihan berat bawaan, sampai yang gak punya labour card. Untungnya mereka diantar oleh majikannya, jadi kendala bahasa bisa teratasi dan masalah yang timbul bisa diselesaikan.
Di atas pesawat ada masalah sedikit, urusan dengan nomor tempat duduk, tapi bisa beres juga, dengan bahasa Tarzan alias bahasa isyarat.
Di Abu Dhabi setelah beres dengan urusan boarding pass, kita dipersilakan masuk ruang tunggu untuk langsung naik bus menuju pesawat.
Sebelum masuk ke ruang tunggu kita dipindai. Seharusnya untuk masuk ke ruang tunggu ini antri, tapi gak tau kenapa para TKI ini gak bisa antri. Ada banyak kemungkinan, mereka takut kalau ketinggalan bus, mereka takut kalau terpisah dengan rombongan atau lebih buruk lagi, mereka gak tau kalau harus ngantri
. Faris sempet menegur pekerja yang gak mau antri itu, karena kebetulan orang yang diselak harus merelakan dirinya diselak oleh lebih dari satu orang. Untung orangnya sabar, cuma senyum dan menggumam
“Musykila”
Aduh, malu rasanya..
Abu Dhabi ini beneran jadi tempat transit, TKI dari belahan Arab manapun kumpul jadi satu di sini.
Pas naik pesawat, heboh lagi, karena para TKI ini maunya berombongan, kumpul jadi satu. Padahal kan tidak semestinya begitu. Ada juga yang tidak memperhatikan nomor kursinya, dilihatnya kosong, main duduk aja. Untung awak kabin maskapai ini cukup sabar dalam meladeni dan membimbing mereka. Menurut Faris, biasanya ada satu awak kabin yang bisa berbahasa Indonesia untuk membantu mereka.
Ketika mulai terbang, aku gak tau ada kejadian apa, karena aku memilih tidur, capek rasanya. Yang jelas tidak terlalu berisik suasananya.
Ketika masuk Indonesia, TKI yang duduk di depan saya, sepertinya udah gak sabar. Berulang kali menanyakan kapan tiba di Jakarta kepada orang di sebelahnya. Kebayang deh be-te nya yang ditanyain, karena hampir tiap 15 menit nanya 
Begitu mau mendarat di Soekarno-Hatta, seperti biasa awak kabin memeriksa segala sesuatu apakah sudah sesuai atau belum. Yang sempet bikin saya terenyuh adalah ketika awak kabin kepala meminta membuka tutup jendela pesawat, TKI itu salah menerjemahkan, duh.. bahasa isyarat kembali menjadi andalan.
Mendarat di Soekarno-Hatta, aku sempat takjub, gak ada bunyi sabuk pengaman dibuka sampai pesawat berhenti dan dering ponsel. Maklum, biasanya kan, begitu roda pesawat menjejak tanah, sudah kedengaran dering ponsel dan atau sabuk pengaman dibuka. Apa mereka lebih tau diri ya ?
Nah, pas sudah siap keluar dari pesawat, mereka kembali berusaha bersama-sama temannya. Ribet dan ribut lah. Dari percakapan selintas, ada yang bingung bagaimana pulang ke kampungnya karena dia hanya seorang diri. Kebetulan kampungnya di Lombok. Lah kalau gak tau gimana pulang, gimana jadinya ?
Ketika menunggu bagasi, lebih seru lagi. Mereka senangnya berkumpul, bergerombol di tempat keluarnya barang, walau tempat itu sudah penuh dengan orang.
Mereka saling membantu memindahkan barang mereka yang gak bisa dibilang kecil dan ringan. Kelihatan repot lah. Para kuli yang ada di situ sibuk menawarkan bantuan, tapi gak digubris. Sempat ada kuli yang komentar
“Gratis kok, gak usah bayar. Masak gak percaya sih”
Duh Gusti… mungkin para TKI ini takut diperas atau pernah ada kejadian atau mereka sudah diwanti-wanti untuk tidak menggunakan jasa kuli.
Aku sempat sedikit membantu mereka, untuk menahan troli supaya gak jalan ketika mereka memindahkan barang. Yang nyebelin, gak ada senyum atau ucapan terimakasih, aku cuma meringis, kalau diizinkan, sebenernya saya pengen mengumpat
“Baru jadi pembantu di luar negeri aja sombong”
Atau mereka berkelakuan seperti itu karena mereka punya pengalaman buruk dengan orang yang membantu. Entah juga
Setelah barang bawaan komplit, mereka berkumpul dengan rekan sedaerahnya untuk pulang bersama-sama ke kampungnya. Saya jadi teringat pemberitaan ada TKI yang dirampok di perjalanan. Mudah-mudahan saja para TKI yang ini lebih beruntung dan lebih pintar. Paling tidak lebih pengalamanlah untuk tidak terlalu percaya kepada orang lain (termasuk saya,
).
Dari apa yang aku lihat, timbul pertanyaan, sebenarnya bekal apa sih yang diberikan penyalur tenaga kerja itu kepada para TKI ? Apa cuma mengenai urusan rumah tangga dan alat-alat rumah tangga ? Mungkin perlu ada kerjasama dengan maskapai udara nasional untuk mentraining para TKI cara-cara berprilaku di atas pesawat. Juga ajarkanlah mereka cara antri dan penggunaan bahasa Inggris yang paling sederhana. Biar gak malu-maluin.
Psst.. gaya TKI itu ada yang heboh banget loh…