azazi's posts with tag: tki

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag tki
Posted by azazi on Nov 18, '07 2:02 PM for everyone

Ini sebenarnya cerita istrinya teman.

 

Suatu waktu, temanku sak keluarga pergi berbelanja ke pusat perbelanjaan yang sekaligus tempat nongkrong dan hang out segala kalangan.

 

Istrinya sempat ngobrol (kalau bisa disebut ngobrol sih) dengan beberapa orang Indonesia yang kebetulan bekerja sebagai maid.

 

Kelihatannya kalau orang Indonesia muslim dan bekerja sebagi maid, mereka diharuskan memakai hijab oleh majikan. Kebetulan teman ini non muslim, sehingga tidak memakai hijab. Seorang dari pekerja ini berkomentar

 

“Waduh, enaknya, majikannya baik ya boleh nggak pake kerudung”

 

“Iya majikan saya memang baik. Mari mbak” jawab istrinya temanku sambil berlalu meninggalkan mereka. Gak tau juga pake dongkol atau biasa-biasa aja

 

Lain waktu, seorang teman yang lain, menghabiskan waktu di tempat yang sama, bersama keluarganya juga. Karena masih dalam rangkaian libur lebaran, tempat tersebut penuh dengan pekerja yang mungkin juga mendapat jatah liburan.

 

Ketika sedang menunggu teman ku berbicara di telepon, istrinya ditegur oleh salah seorang dari pekerja perempuan yang kebetulan menghabiskan waktu di situ juga

 

“Suaminya ya mbak” kata pekerja sambil menunjuk ke arah temanku

 

“Iya” jawab istri teman tanpa tendensi apa-apa

 

“Wah senangnya bisa barengan sama suaminya”

 

Istrinya teman cuma tersenyum simpul.

 

“Ini anak…” tanya nya menunjuk sang anak yang kebetulan sedang digendong sama istrinya temanku

 

“Oh, ini anak kami” jawab istri teman

 

“Oh, saya kira anak majikan”

 

Gubraks !!! Temanku dan istrinya cuma tersenyum dengan sedikit mendongkol kemudian berlalu.

 

“Kurang gaya apa sih, saya” sungut teman saya, ketika mereka sudah berlalu

 

 ternyata para pekerja itu, kalau ketemu dengan teman sebangsanya, selalu berpikir pekerjaannya sama dengan pekerjaannya sama mereka, sebagai maid atau kalau yang cowok, sebagai sopir.

 

Tapi, jadi pertanyaan juga, sebenarnya kita nya kurang gaya gak sih ? Atau emang kitanya yang tidak meyakinkan ?


Posted by azazi on Nov 17, '07 2:26 PM for everyone

Bicarain TKI itu gak ada habis-habisnya. Maklum tingkah polah mereka kadangkala tak terduga.

 

Pernah suatu ketika, dalam penerbangan Jakarta menuju Surabaya, kala masih suka bolak balik Jakarta Surabaya, aku duduk berdekatan dengan seorang TKI. Dari logat bicaranya dia sudah cukup lama bekerja di Malaysia.

 

Ketika awak kabin membagikan permen sebelum pesawat berangkat, aku mengambil 2 atau 3, cuma untuk jaga-jaga takut telinga tiba-tiba agak tuli.

 

Mbak yang di samping saya menolak, dan ketika awak kabin berlalu, ia berkomentar

 

“Saya tak suka gula-gula Indonesia. Keras. Saya bawa ini dari Malaysia

 

Aku cuma nyengir aja sambil gumun dalam hati, kok ya sombong banget sih. Padahal di Indonesia juga banyak kok permen lembut.

 

Kali lain, aku terbang dari Jakarta ke Lombok, dan di sebelah saya 2 orang TKI. Yang satu kelihatannya pulang kampung dan yang satu liburan bersama tuannya. Itu yang saya dapat sarikan dari pembicaraan mereka.

 

Nah, ketika pesawat siap landas, awak kabin sibuk dong memeriksa para penumpang, apakah seat bealt nya sudah terpasang, sandaran kursi sudah tegak dan meja sudah dilipat. Ketika mereka melintas, kebetulan meja sudah terlipat. Begitu mereka berlalu, ternyata penumpang di sebelahku membuka kembali mejanya. Semula aku diamkan saja, karena aku pikir mereka mustinya sudah tahu dong aturannya kalau naik pesawat.

 

Eh, ternyata, sampai pesawat berjalan di run away, meja nya belum dilipat.

 

Dengan penuh kesopanan, aku mencoba meminta mereka melipat kembali mejanya. Dilipat sih mejanya, tapi matanya melotot ke aku. O, la, la… aku cuma bisa senyum, mau apa lagi ?


Posted by azazi on Nov 17, '07 2:14 PM for everyone

Siapa sih yang gak tau TKI itu apa. Pastinya sudah pada paham lah. TKI itu kalau boleh dibilang, asal mulanya dari TKW. Ya, Tenaga Kerja Wanita adalah cikal bakal dari Tenaga Kerja Indonesia.

 

Aku sendiri gak gitu paham, sejak kapan marak pemberangkatan TKW ke luar negeri khususnya Negara Asia Tengah (Arab lah.. gampangnya). Dan sejak kapan pula TKW berubah menjadi TKI alias Tenaga Kerja Indonesia yang mencakup tenaga kerja laki-laki dan perempuan.

 

Mulanya TKW atau TKI ini, lekat dengan label tenaga kerja tidak terdidik alias mereka bekerja sebagai buruh atau pembantu rumah tangga. Namun lambat laun TKI ini meluas juga ke tenaga kerja terdidik dan terampil.

 

Kemarin, ketika pulang kampung, saya dan suami mencoba pulang dengan menggunakan kelas ekonomi. Gak ada alasan khusus, cuma ingin tahu aja. Bos kita malah sempet komentar sambil bercanda

 

“ Malu-maluin.. dobel gardan (sebutan untuk suami istri yang bekerja) kok pulang naik ekonomi”

 

Seorang rekan yang kerap bertandang mengunjungi suaminya, pernah cerita secara selintas apa yang akan terjadi di kelas ekonomi, salah satunya.. banyak TKI nya.

 

Waktu kita check in, beberapa TKI sempat bermasalah. Ada yang kelebihan berat bawaan, sampai yang gak punya labour card. Untungnya mereka diantar oleh majikannya, jadi kendala bahasa bisa teratasi dan masalah yang timbul bisa diselesaikan.

 

Di atas pesawat ada masalah sedikit, urusan dengan nomor tempat duduk, tapi bisa beres juga, dengan bahasa Tarzan alias bahasa isyarat.

 

Di Abu Dhabi setelah beres dengan urusan boarding pass, kita dipersilakan masuk ruang tunggu untuk langsung naik bus menuju pesawat.

 

Sebelum masuk ke ruang tunggu kita dipindai. Seharusnya untuk masuk ke ruang tunggu ini antri, tapi gak tau kenapa para TKI ini gak bisa antri. Ada banyak kemungkinan, mereka takut kalau ketinggalan bus, mereka takut kalau terpisah dengan rombongan atau lebih buruk lagi, mereka gak tau kalau harus ngantri . Faris sempet menegur pekerja yang gak mau antri itu, karena kebetulan orang yang diselak harus merelakan dirinya diselak oleh lebih dari satu orang. Untung orangnya sabar, cuma senyum dan menggumam

 

“Musykila”

 

Aduh, malu rasanya..

 

Abu Dhabi ini beneran jadi tempat transit, TKI dari belahan Arab manapun kumpul jadi satu di sini.

 

Pas naik pesawat, heboh lagi, karena para TKI ini maunya berombongan, kumpul jadi satu. Padahal kan tidak semestinya begitu. Ada juga yang tidak memperhatikan nomor kursinya, dilihatnya kosong, main duduk aja. Untung awak kabin maskapai ini cukup sabar dalam meladeni dan membimbing mereka. Menurut Faris, biasanya ada satu awak kabin yang bisa berbahasa Indonesia untuk membantu mereka.

 

Ketika mulai terbang, aku gak tau ada kejadian apa, karena aku memilih tidur, capek rasanya. Yang jelas tidak terlalu berisik suasananya.

 

Ketika masuk Indonesia, TKI yang duduk di depan saya, sepertinya udah gak sabar. Berulang kali menanyakan kapan tiba di Jakarta kepada orang di sebelahnya. Kebayang deh be-te nya yang ditanyain, karena hampir tiap 15 menit nanya

 

Begitu mau mendarat di Soekarno-Hatta, seperti biasa awak kabin memeriksa segala sesuatu apakah sudah sesuai atau belum. Yang sempet bikin saya terenyuh adalah ketika awak kabin kepala meminta membuka tutup jendela pesawat, TKI itu salah menerjemahkan, duh.. bahasa isyarat kembali menjadi andalan.

 

Mendarat di Soekarno-Hatta, aku sempat takjub, gak ada bunyi sabuk pengaman dibuka sampai pesawat berhenti dan dering ponsel. Maklum, biasanya kan, begitu roda pesawat menjejak tanah, sudah kedengaran dering ponsel dan atau sabuk pengaman dibuka. Apa mereka lebih tau diri ya ?

 

Nah, pas sudah siap keluar dari pesawat, mereka kembali berusaha bersama-sama temannya. Ribet dan ribut lah. Dari percakapan selintas, ada yang bingung bagaimana pulang ke kampungnya karena dia hanya seorang diri. Kebetulan kampungnya di Lombok. Lah kalau gak tau gimana pulang, gimana jadinya ?

 

Ketika menunggu bagasi, lebih seru lagi. Mereka senangnya berkumpul, bergerombol di tempat keluarnya barang, walau tempat itu sudah penuh dengan orang.

 

Mereka saling membantu memindahkan barang mereka yang gak bisa dibilang kecil dan ringan. Kelihatan repot lah. Para kuli yang ada di situ sibuk menawarkan bantuan, tapi gak digubris. Sempat ada kuli yang komentar

 

“Gratis kok, gak usah bayar. Masak gak percaya sih”

 

Duh Gusti… mungkin para TKI ini takut diperas atau pernah ada kejadian atau mereka sudah diwanti-wanti untuk tidak menggunakan jasa kuli.

 

Aku sempat sedikit membantu mereka, untuk menahan troli supaya gak jalan ketika mereka memindahkan barang. Yang nyebelin, gak ada senyum atau ucapan terimakasih, aku cuma meringis, kalau diizinkan, sebenernya saya pengen mengumpat

 

“Baru jadi pembantu di luar negeri aja sombong”

 

Atau mereka berkelakuan seperti itu karena mereka punya pengalaman buruk dengan orang yang membantu. Entah juga

 

Setelah barang bawaan komplit, mereka berkumpul dengan rekan sedaerahnya untuk pulang bersama-sama ke kampungnya. Saya jadi teringat pemberitaan ada TKI yang dirampok di perjalanan. Mudah-mudahan saja para TKI yang ini lebih beruntung dan lebih pintar. Paling tidak lebih pengalamanlah untuk tidak terlalu percaya kepada orang lain (termasuk saya, ).

 

Dari apa yang aku lihat, timbul pertanyaan, sebenarnya bekal apa sih yang diberikan penyalur tenaga kerja itu kepada para TKI ? Apa cuma mengenai urusan rumah tangga dan alat-alat rumah tangga ? Mungkin perlu ada kerjasama dengan maskapai udara nasional untuk mentraining para TKI cara-cara berprilaku di atas pesawat. Juga ajarkanlah mereka cara antri dan penggunaan bahasa Inggris yang paling sederhana. Biar gak malu-maluin.

 

Psst.. gaya TKI itu ada yang heboh banget loh…


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help